Senin, 12 Februari 2024

Review film 9 Putri sejati

 Review film 9 puteri sejati



Sebuah film yang menggambarkan tentang perjuangan perempuan berlatar belakang jaman penjajahan Belanda. Film ini menceritakan tentang perjalanan organisasi perempuan yang besar saat ini. Yaitu organisasi Aisyiyah. 

Perjalanan lahirnya pergerakan perempuan di jaman penjajahan Belanda. Kita tahu bahwa pada saat itu sangat tabu sekali bagi seorang perempuan untuk keluar rumah dan mengurus segala sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan sumur dapur dan kasur. 

Anggapan masyarakat pada saat itu adalah bahwa perempuan itu memang kodratnya sebagai konco wingking, tidak punya hak untuk pergi keluar rumah maupun bersekolah. Sekolah pada jaman penjajahan Belanda hanya untuk orang Belanda atau orang yang punya kedudukan dalam pemerintahan Hindia Belanda. Rakyat biasa tidak layak atau memang dianjurkan tidak sekolah, apalagi anak perempuan. 

Oleh karena itu marak pada jaman itu pendidikan pesantren bagi anak-anak negeri. Pendidikan bagi mereka cukup pelajaran agama saja, belajar pada seorang kyai. Bisa di suraunya kyai atau mondok sekalian di rumah kyai tersebut. 

Di film ini diceritakan bagaimana nyai Walidah Ahmad Dahlan memulai pergerakan bagi anak perempuan. Beliau sadar bahwa perempuan juga harus belajar. Perempuan juga punya hak yang sama dengan anak laki-laki dalam hal mencari ilmu. 

Oleh karena itulah beliau mendirikan pergerakan perempuan dengan nama "Sopo Tresno". Beliau mulai kegiatannya dengan mengajak beberapa anak perempuan ke rumah beliau untuk belajar bersama. Belajar membaca, belajar mengaji dan lain sebagainya. 

Pada awalnya hanya beberapa orang saja yang mau diajak belajar bersama. Itu saja ada yang tidak diijinkan oleh orang tuanya untuk ikut serta dalam kegiatan belajar tersebut. Karena seperti banyak orang tua yang beranggapan bahwa perempuan itu tidak harus belajar, perempuan itu ya di rumah saja, mengerjakan pekerjaan -pekerjaan rumah.

Tetapi bagi nyai Walidah hal-hal tersebut tidak menyurutkan langkahnya. Beliau tetap berusaha membina, mengajar anak-anak perempuan yang mau datang ke rumah beliau. Tentu saja beliau tidak hanya mengajarkan membaca saja, tetapi sambil memberikan kesadaran bahwa nusantara ketika itu dalam masa penjajahan. Dan sebagai perempuan  sudah seharusnya membuat perempuan se-nusantara itu menjadi perempuan yang pintar. Membuat gerakan untuk terwujudnya kebebasan bagi Nusantara. 

Karena dengan membuat perempuan pintar, itu juga akan memberikan kontribusi dalam mendidik anak-anaknya kelak di kemudian hari. 

Beberapa orang anak perempuan berhasil beliau didik dengan baik. Tentunya hai tersebut tidak lepas pula dari didikan kyai Haji Ahmad Dahlan . Sopo Tresno adalah cikal bakal lahirnya pergerakan perempuan , Aisyiyah. 

Ketika akhirnya Aisyiyah resmi didirikan, yang menjadi ketua pertama adalah murid beliau yang bernama Siti Badriyah dan dibantu dengan murid yang lain yang berjumlah 9 orang. Sejak saat itu Aisyiyah terus berkiprah, berkegiatan untuk memajukan perempuan-perempuan  di seluruh nusantara ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerita bersama Ibu

Bersama ibu Banyak cerita lucu sebenarnya ketika membersamai ibu mertua selama ini. Oya saya adalah seorang menantu yang sudah sangat akrab ...